Wednesday
is Bad Day For Last Day
Sepertinya kampusku diguyur hujan
deras. Gemercik suara air memang tak terdengar jelas, tetapi ku lihat tetesan air
dibalik dinding kaca sedikit menjelaskan, bagaimana aroma tanah yang basah dan cuaca
diluar bilik dinding ini. Ruangan ini tampak hening. Satu, dua, tiga atau
mungkin 6 yang terlihat dipelupuk mata. Hanya duduk, bersandar, berfikir, dan yang
lainnya lalu lalang, nampak sibuk dengan sekantong tugas, rapat, dan saat ini
aku sedang dalam penantianku.
Aku sedang duduk sambil melihat keadaan
sekitar. Sekilas melihat jam berkali-kali. Emm... Waktu ini cepat berlalu.
Rasanya aku ingin memperbaiki semua hal yang menurutku salah di kampus ini.
Tangan ini terus melaju dengan tulisan yang mungkin sudah memenuhi isi otakku.
Dengan setia leptop kecil ini ku pangku. Menghela nafas dalam-dalam, karna teringat
kejadian tadi siang sungguh membuatku ingin mengeluh... “ya, mengeluh
satu jam saja”, gumamku.
Tidak
perlu aku menceritakan serangkaian hal itu dengan jelas. Aku hanya cukup
menyimpannya rapat-rapat untuk di koreksi kembali. Tak dipungkiri,
keterlibatanku dalam kesialan tadi tak lain karna ulahku sendiri. Siapa lagi,
orang yang berperan penuh atas hari ini?
Rasanya
ingin murka. Tapi tak kuasa aku lakukan. Seperti seorang pecudang saja, yang
ingin menyalahkan orang lain setiap kali dia melakukan kesialan yang tak lain dilakukan
oleh dirinya sendiri. Hampir berapa jam aku manyun, dengan tatapan mata tajam,
seakan siap memakan orang yang membuat kesalahan hari ini padaku. Ibu kantin
bertanya “Kenapa? Kok mukanya
dilipat-lipat gitu”.
“Bete bu...”,
sahutku.
Kuambil
uang disaku celana jinsku. Untung masih ada 2000rb, lumayanlah untuk makan sore
kali ini. Aku memutuskan untuk membeli mie sayur yang dibungkus dengan plastik
mika. Kemudian aku pergi dan melanjutkan penantianku di kursi menunggu. Aku
sudah menahan lapar ini sejak tadi siang, tapi berhubung takut sisipan dengan
dosen lebih baik aku menunggu dengan perut melilit. Sayangnya aku mulai tak
tahan dan memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada dosenku. Oke...
sepertinya cukup untuk aku turun dan mencari cemilan untuk mengisi perut yang
sudah merong-rong ini.
Ketika
hendak duduk dan makan didepan ruang dosen. Sialnya, mie yang aku beli sudah
basi. Teganya ibu itu... Uang satu-satunya terbuang sia-sia sudah...
Tiba-tiba
saja dosenku keluar dan melihat. “Kamu belum makan dek? Maaf ya... Ayo masuk dan bawa
makananmu”. “Ah tak usah bu...”, sahutku. Kemudian kita duduk, saling bertatapan dan
mencoba menceritakan alasan kenapa skripsi ini tertunda sekian lama. Aku cukup
senang bahwa dosenku sangat mengerti dan memahami keadaanku. Banyak hal yang
kita bahas bersama. Beliau pun tersenyum, dan menceritakan sedikit cerita
tentang kegigihan seseorang anak yang mencapai kesuksesan. Sepertinya beliau
berharap aku seperti cerita tersebut.
“Kadang ada rasa ingin menyerah, sewaktu-waktu ketika hal
yang ingin aku lakukan lebih baik tetapi lingkungan tidak mendukungku“, tanyaku
Kamu
tidak boleh dikuasai rasa takut,
ibu yakin kamu bisa melewati semuanya, sabar...”,
kata beliau
Dengan
muka yang damai dan intonasi suara yang menenangkan. Aku sedikit lega bertemu
beliau. Sebelumnya aku membayangkan seorang dosen adalah seseorang yang galak
dan menakutkan. Ternyata untuk satu ini persepsiku telah “salah”
menilai. Beliau memberiku semangat... dengan suara yang tegas dan penuh
kepastian bahwa aku bisa.
Keluar
dari ruangan tersebut, aku pun lupa dengan rasa laparku. Kemudian beranjak
pulang dengan hujan gerimis. Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa seseorang
yang diceritakan oleh beliau tak lain adalah beliau sendiri.



