English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Tuesday, November 29, 2011

Last Day


Wednesday is Bad Day For Last Day


Sepertinya kampusku diguyur hujan deras. Gemercik suara air memang tak terdengar jelas, tetapi ku lihat tetesan air dibalik dinding kaca sedikit menjelaskan, bagaimana aroma tanah yang basah dan cuaca diluar bilik dinding ini. Ruangan ini tampak hening. Satu, dua, tiga atau mungkin 6 yang terlihat dipelupuk mata. Hanya duduk, bersandar, berfikir, dan yang lainnya lalu lalang, nampak sibuk dengan sekantong tugas, rapat, dan saat ini aku sedang dalam penantianku.

Aku sedang duduk sambil melihat keadaan sekitar. Sekilas melihat jam berkali-kali. Emm... Waktu ini cepat berlalu. Rasanya aku ingin memperbaiki semua hal yang menurutku salah di kampus ini. Tangan ini terus melaju dengan tulisan yang mungkin sudah memenuhi isi otakku. Dengan setia leptop kecil ini ku pangku. Menghela nafas dalam-dalam, karna teringat kejadian tadi siang sungguh membuatku ingin mengeluh... ya, mengeluh satu jam saja”, gumamku.

Tidak perlu aku menceritakan serangkaian hal itu dengan jelas. Aku hanya cukup menyimpannya rapat-rapat untuk di koreksi kembali. Tak dipungkiri, keterlibatanku dalam kesialan tadi tak lain karna ulahku sendiri. Siapa lagi, orang yang berperan penuh atas hari ini?
Rasanya ingin murka. Tapi tak kuasa aku lakukan. Seperti seorang pecudang saja, yang ingin menyalahkan orang lain setiap kali dia melakukan kesialan yang tak lain dilakukan oleh dirinya sendiri. Hampir berapa jam aku manyun, dengan tatapan mata tajam, seakan siap memakan orang yang membuat kesalahan hari ini padaku. Ibu kantin bertanya Kenapa? Kok mukanya dilipat-lipat gitu. Bete bu...”, sahutku.

Kuambil uang disaku celana jinsku. Untung masih ada 2000rb, lumayanlah untuk makan sore kali ini. Aku memutuskan untuk membeli mie sayur yang dibungkus dengan plastik mika. Kemudian aku pergi dan melanjutkan penantianku di kursi menunggu. Aku sudah menahan lapar ini sejak tadi siang, tapi berhubung takut sisipan dengan dosen lebih baik aku menunggu dengan perut melilit. Sayangnya aku mulai tak tahan dan memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada dosenku. Oke... sepertinya cukup untuk aku turun dan mencari cemilan untuk mengisi perut yang sudah merong-rong ini.

Ketika hendak duduk dan makan didepan ruang dosen. Sialnya, mie yang aku beli sudah basi. Teganya ibu itu... Uang satu-satunya terbuang sia-sia sudah...

Tiba-tiba saja dosenku keluar dan melihat. Kamu belum makan dek? Maaf ya... Ayo masuk dan bawa makananmu. Ah tak usah bu..., sahutku. Kemudian kita duduk, saling bertatapan dan mencoba menceritakan alasan kenapa skripsi ini tertunda sekian lama. Aku cukup senang bahwa dosenku sangat mengerti dan memahami keadaanku. Banyak hal yang kita bahas bersama. Beliau pun tersenyum, dan menceritakan sedikit cerita tentang kegigihan seseorang anak yang mencapai kesuksesan. Sepertinya beliau berharap aku seperti cerita tersebut.

Kadang ada rasa ingin menyerah, sewaktu-waktu ketika hal yang ingin aku lakukan lebih baik tetapi lingkungan tidak mendukungku“, tanyaku

Kamu tidak boleh dikuasai rasa takut, ibu yakin kamu bisa melewati semuanya, sabar..., kata beliau

Dengan muka yang damai dan intonasi suara yang menenangkan. Aku sedikit lega bertemu beliau. Sebelumnya aku membayangkan seorang dosen adalah seseorang yang galak dan menakutkan. Ternyata untuk satu ini persepsiku telah salah menilai. Beliau memberiku semangat... dengan suara yang tegas dan penuh kepastian bahwa aku bisa.

Keluar dari ruangan tersebut, aku pun lupa dengan rasa laparku. Kemudian beranjak pulang dengan hujan gerimis. Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa seseorang yang diceritakan oleh beliau tak lain adalah beliau sendiri.

0 comments:

Post a Comment


ShoutMix chat widget